Featured Post

Antara realita dan retorika Kaum intelektual, bisakah dipercaya ?

Antara realita dan retorika Kaum intelektual, bisakah dipercaya ?

 Antara Dosen di Panggung dan Emak-emak di Pinggir Jalan: Refleksi Kritis dari Seorang Blogger

By: MPA Official


Kadang MPA yang budiman, balik lagi kita ngobrol santai. Kali ini admin mau curhat dikit, nih. Soalnya beberapa hari ini kepala admin dipenuhi pertanyaan yang berputar-putar, dan rasanya pengen banget dituangkan dalam tulisan.

Di dunia perpolitikan Indonesia ini, admin percaya setiap orang punya hak buat berpendapat—baik itu mengkritik habis-habisan atau memberi apresiasi. Termasuk admin sebagai penulis blog ini, terlepas dari apapun latar belakang pendidikan admin, kan? Yang penting kan isinya, bukan gelarnya.

Antara realita dan retorika Kaum intelektual, bisakah dipercaya


Fenomena Orang Terdidik yang Bikin Admin Garuk Kepala

Akhir-akhir ini, admin sering banget menemukan video-video dari orang-orang yang konon terdidik di negeri ini. Mulai dari dosen, rektor, profesor, bahkan doktor, mereka berbicara dengan nada yang sangat meyakinkan seolah-olah negara ini sedang tidak baik-baik saja dan bahkan menuju kehancuran. Isinya berat, narasinya bombastis, dan judul-judulnya bombastis.

Tapi yang bikin admin bingung dan kepikiran sampai sekarang adalah: kenapa tidak satupun video mampir ke beranda admin yang menayangkan orang-orang ini datang langsung, atau setidaknya bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah? Yang katanya mereka wakili keluh kesahnya, yang katanya mereka perjuangkan nasibnya.


Jangan Cuma di Panggung Perhatian , Turunlah ke Jalan Atau blusukan !

Pernah dengar cerita tentang Mahbub Djunaidi? Beliau ini seorang jurnalis, budayawan, dan tokoh pergerakan yang terkenal dengan tulisan-tulisannya yang jenaka tapi menusuk. Mahbub membuktikan bahwa menjadi aktivis tak harus galak, dan menjadi penulis tak harus sok serius . Tapi yang lebih penting, isi tulisannya selalu menyuarakan nurani rakyat kecil .

Mahbub bahkan rela memberikan ruang dalam tulisannya bagi orang-orang yang terpinggirkan—anak pedagang asongan sampai pengemis di lampu merah . Ia tidak pernah melihat manusia dari kasta atau jabatan. Baginya, semua orang setara .

Nah, sekarang kita balik ke fenomena tadi. Para dosen dan profesor itu mungkin punya banyak gelar, mungkin juga punya wacana yang cemerlang. Tapi apakah mereka sudah seturun Mahbub Djunaidi? Apakah mereka sudah "turun gunung" menemui langsung orang-orang yang mereka perjuangkan?


Kenapa blusukan Ini Penting?

Kadang MPA, admin percaya bahwa kritik dan analisis itu penting. Tapi kritik yang hanya berputar di ruang-ruang diskusi elite tanpa pernah bersentuhan dengan realita di lapangan, lama-lama bisa kehilangan "rasa" dan "nyawa"-nya.

Ada gaya penulisan yang bisa membuat isu berat terasa ringan dan dekat di hati pembaca . Bahkan, isu-isu politik, birokrasi, dan kemasyarakatan bisa disampaikan dengan seloroh tanpa mengurangi bobotnya . Tapi yang paling krusial adalah sentuhan langsung dengan realita.

Pertanyaan admin sederhana: Jika seorang akademisi berbicara soal kemiskinan di desa, sudahkah ia pernah bermalam di rumah warga miskin? Jika ia berbicara soal buruh, sudahkah ia pernah duduk dan mendengar keluhan mereka secara langsung? Kalau belum, maka narasi yang dibangun bisa jadi hanya narasi "elite" yang kehilangan akar.


Yang Mau Admin Sampaikan

Admin bukan anti-kritik, Kadang MPA. Admin juga bukan anti-intelektual. Admin hanya ingin mengingatkan, bahwa menjadi "wakil rakyat" di panggung publik itu butuh lebih dari sekedar gelar atau kemampuan berpidato.

Butuh kerendahan hati untuk turun, nyali untuk mendengar langsung, dan kemampuan untuk menyampaikan suara rakyat dengan jujur, seperti yang dicontohkan oleh para pendekar pena seperti Mahbub Djunaidi .

Indonesia butuh lebih banyak orang terdidik yang tidak hanya pintar di atas kertas, tapi juga punya "tangan" yang siap kotor dan "kaki" yang siap melangkah ke pelosok untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar peduli. Bukan cuma sibuk membuat konten di kanal pribadi.

Nah, itu dulu curhatan admin kali ini. Semoga tulisan ini tidak terlalu berat dan bisa memantik diskusi yang sehat di antara Kadang MPA sekalian.


Gimana menurut Kadang MPA? Komen di bawah, ya! πŸ˜„


Daftar sumber

Mahbub Djunaidi Wikipedia 


"MPA Official - Media Politik Asik yang Nggak Bikin Pusing!" πŸ˜„

Tidak ada komentar

πŸ“’ Follow untuk bacaan asik lainnya! πŸ˜„

πŸ‘‰πŸΌ Ikuti MPA OfficialπŸ‘ˆπŸΌ