-->

beda gaya komunikasi, prabowo harus belajar dari jokowi ?

 Beda Dengan Jokowi, Kenapa Serangan Ke Prabowo Masif Di Media Sosial?

By: Tim MPA Official


Warga MPA Official yang budiman, akhir-akhir ini kita sering lihat di timeline medsos ramai banget serangan terhadap Presiden Prabowo. Mulai dari sindiran, meme, sampai komentar pedas yang isinya nggak tanggung-tanggung. Sementara dulu, kita jarang lihat serangan sebesar ini ke Jokowi, apalagi pas beliau masih menjabat. Kenapa beda? Yuk, kita bedah bareng! 😄

beda gaya komunikasi, prabowo harus belajar dari jokowi


Gaya Komunikasi Politik Berbeda dari Awal

Dari hasil analisis komunikasi populer, Jokowi dan Prabowo punya gaya yang berbeda banget. Jokowi dikenal dengan pendekatan emosional, dekat dengan rakyat lewat blusukan dan media sosial, yang menguatkan citranya sebagai "wong cilik". Pendekatan ini membuat banyak orang merasa dekat dan enggan menyerang secara frontal.

Sebaliknya, Prabowo lebih menonjolkan narasi konfrontatif dengan gaya "rakyat versus elite", yang dibalut nasionalisme dan agama konservatif. Gaya ini efektif untuk kampanye, tapi setelah berkuasa, narasi konfrontatif justru jadi senjata makan tuan. Lawan politik pun menggunakan gaya yang sama untuk menyerang balik.


Warisan Komunikasi Digital  Jokowi yang Masif

Di era Jokowi, pemerintah membangun sistem komunikasi publik yang masif. Narasi Tunggal digaungkan, setiap kementerian disuruh punya pesan yang sama. Ini bikin serangan-serangan yang muncul relatif terkendali karena ada "tembok" komunikasi yang kuat.



Di era Prabowo, sistem ini disebut-sebut belum sepenuhnya diadaptasi atau bahkan cenderung lebih tertutup dan represif. Akibatnya, ruang untuk serangan jadi lebih longgar. Belum lagi gaya bahasa Prabowo yang kadang kasual dan blak-blakan, seperti saat melontarkan kata "ndasmu" ke pengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini dianggap publik sebagai indikasi "anti-kritik", yang justru memantik serangan balik lebih keras.


Ada Dugaan Pola Terstruktur Dan Masif

Nah, ini yang paling seru. Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai serangan terhadap Prabowo ini terorganisasi, masif, dan sistematis. Polanya bukan kritik spontan, tapi ada orkestrasi narasi, pengulangan isu, dan penggiringan emosi publik. 


Ciri operasi digital terstruktur:

· Isu serupa muncul bersamaan di banyak platform

· Diperkuat akun anonim dan influencer politik

· Ada meme, video pendek, dan komentar terarah


Dalam dunia intelijen, ini disebut psychological operation (psyops) digital, tujuannya untuk delegitimasi kekuasaan. Amir bahkan menduga ada tokoh intelijen loyalis Jokowi yang dipecat dan menggerakkan serangan ini. Kelompok pendukung Jokowi (disebut Termul) juga disebut-sebut sebagai dalangnya. 


Bedanya: Dari "Raja Hashtag" ke "Magnet Engagement"

Meski serangan masif, Prabowo justru punya daya tarik tersendiri. Riset Brand Politika menunjukkan bahwa meskipun nama Jokowi lebih sering disebut di media sosial (29 ribu unggahan) dibanding Prabowo (23 ribu unggahan), interaksi netizen terhadap konten Prabowo justru lebih tinggi (15 juta) dibanding Jokowi (9,5 juta). 


Artinya, warganet lebih aktif berkomentar, like, atau share soal Prabowo. Ini bisa jadi karena konten-konten yang menyerang Prabowo memancing reaksi, sekaligus menandakan bahwa publik digital sedang "panas" dan terlibat aktif dalam perbincangan seputar pemerintahannya. 


Kesimpulan: Beda Gaya Jokowi , Beda Medan Perang Prabowo

Jadi, MPA Official, kenapa serangan ke Prabowo lebih masif?

1. Gaya komunikasi yang berbeda. Prabowo membawa narasi konfrontatif, yang setelah berkuasa jadi bumerang. Jokowi lebih memilih pendekatan emosional yang membuat orang enggan menyerang.

2. Warisan sistem komunikasi. Era Jokowi punya sistem komunikasi publik yang lebih "tertutup" dengan Narasi Tunggal. Era Prabowo dianggap lebih terbuka dan longgar.

3. Adanya dugaan pola terstruktur. Bukan kritik biasa, tapi ada indikasi serangan yang terorganisir dan sistematis untuk meruntuhkan legitimasi.

4. Kepribadian dan gaya bahasa. Gaya blak-blakan Prabowo kadang memantik serangan balik yang lebih emosional dan personal, bahkan sampai ke taraf penghinaan. 

Yang terpenting, meskipun ramai di media sosial, legitimasi Prabowo tetap kuat. Survei Poltracking mencatat 74,2 persen publik percaya dengan pemerintahan Prabowo dan 72,2 persen puas dengan kinerjanya. Artinya, serangan di medsos mungkin keras, tapi belum tentu mewakili suara mayoritas rakyat. 😄🔥


Bagaimana pendapat kalian, MPA Official? Komen di bawah! 😄



MPA Official - Media Politik Asik yang Nggak Bikin Pusing! 😄

Previous article
Next article

0 Response to "beda gaya komunikasi, prabowo harus belajar dari jokowi ?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel