Parluh PSHT 2026, Di Madiun apa Di Sragen?
PSHT dan Dualisme di Era Digital: Antara Persaudaraan dan Kedewasaan Dalam Bermedia Sosial
By: MPA Official
Kadang MPA yang budiman, balik lagi kita ngobrolin hal yang agak berat tapi penting buat kita renungkan bersama. Kali ini admin mau curhat soal keadaan organisasi yang kita cintai, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Sebentar lagi masa jabatan pengurus habis dan akan digelar event 5 tahunan, Parapatan Luhur (Parluh) PSHT 2026. Tapi sayangnya, di tengah persiapan acara besar ini, ada hal yang mengganggu pikiran admin sebagai warga PSHT. π
Yuk, kita bahas dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
![]() |
| PSHT dan Dualisme di Era Digital: Antara Persaudaraan dan Saling Sindir di Medsos |
Menuju Parluh 2026: Harapan di Tengah Dinamika
Masa jabatan pengurus PSHT pusat segera berakhir. Sebagai organisasi besar yang menjunjung tinggi musyawarah, PSHT akan menggelar Parapatan Luhur (Parluh) pada akhir September 2026 untuk memilih kepemimpinan baru. Ini adalah momen penting untuk regenerasi dan menentukan arah organisasi ke depan.
Di tingkat cabang pun, proses parapatan sudah berjalan. Contohnya PSHT Cabang Sragen yang telah menggelar parapatan dan mengajukan tiga nama calon ketua cabang ke Pusat Madiun untuk periode 2026-2031 . Ini menunjukkan bahwa mekanisme organisasi tetap berjalan di tengah dinamika yang ada.
Namun, di balik prosesi sakral ini, ada kabar yang mengusik.
Dualisme Kepengurusan: Bayang-bayang 10 Tahun Terakhir
Kita semua tahu, PSHT masih terjebak dalam dualita kepengurusan yang sudah berlangsung sekitar 10 tahun. Ada dua kubu yang saling mengklaim sebagai pemegang sah nama PSHT. Konflik ini bukan rahasia lagi dan sudah melalui berbagai jalur, mulai dari mediasi hingga proses hukum yang panjang .
Secara hukum, Kementerian Hukum dan HAM telah mengesahkan kepengurusan PSHT di bawah kepemimpinan Mas M. Taufik melalui SK Nomor AHU-005248.AH.01.07 Tahun 2025 . Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto juga telah mengakui kepengurusan ini sebagai yang sah . Namun, di sisi lain, kubu Mas Moerdjoko masih memiliki legal standing merk klas 41 dan terus memperjuangkan haknya melalui jalur hukum di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, dengan mengajukan gugatan untuk memulihkan status hukum yang mereka yakini .
Ketegangan ini bahkan memicu aksi di beberapa daerah, seperti unjuk rasa ratusan pesilat di DPRD Blitar pada Mei 2026 , serta puluhan anggota PSHT yang mendatangi kantor IPSI Pamekasan untuk menuntut hak mereka . Kepala kepolisian di beberapa daerah pun mengimbau agar semua pihak menjaga ketertiban dan menggunakan media sosial dengan bijak untuk mencegah gesekan .
Ironi Media Sosial: Sindiran dan Hinaan di Antara Saudara PSHT
Nah, ini yang paling disayangkan, Kadang MPA. Di tengah situasi yang sudah tidak mudah ini, banyak konten dari kedua kubu yang saling menyindir, bahkan sampai menghina pengurus yang tidak mereka dukung.
Kita sering melihat unggahan yang secara terang-terangan atau terselubung merendahkan pihak lain. Narasi yang menyesatkan, saling tuduh, dan komentar-komentar pedas di kolom publikasi. Jauh sekali dari kata "persaudaraan" yang katanya dijunjung tinggi dalam PSHT. Hal ini sangat ironis mengingat salah satu nilai inti PSHT adalah menjaga persaudaraan, baik lahir maupun batin, dengan saling menghormati dan menghargai.
Sesepuh PSHT, Kangmas Tjatur Njoto Hadinegoro, mengingatkan bahwa persaudaraan bukan hanya jargon, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata . Di era digital seperti sekarang, menjaga persaudaraan menjadi lebih berat karena arus informasi yang masif. Banyak informasi yang tidak tervalidasi bisa memicu fitnah, memecah belah, dan merusak nilai-nilai luhur persaudaraan . Kita mudah terpancing oleh informasi yang menggeneralisasi atau hanya opini tanpa dasar .
Kapolres Magetan juga mengingatkan anggota baru PSHT untuk bijak bermedsos dan tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang belum diketahui kebenarannya . Ini menunjukkan bahwa masalah kedewasaan bermedia sosial memang menjadi perhatian serius, termasuk di tubuh PSHT.
Renungan untuk Kita Semua
Kadang MPA, ini bukan soal mendukung Mas Moerdjoko atau Mas Taufik. Ini soal bagaimana kita, sebagai warga PSHT, menjaga marwah organisasi di mata publik. Di mana letak persaudaraan yang kita junjung tinggi? Apakah hanya saat di padepokan, lalu di medsos menjadi ajang adu domba?
Ingatlah wasiat yang disampaikan RM. Imam Kosoepangat: kita bersaudara atas dasar prinsip, dengan berpegang teguh pada pepacuh dan sumpah bersama . Sumpah itu jelas: "Mematuhi semua syarat dan kewajiban, melaksanakan semua PUTUSAN PUTUSAN Setia Hati Terate" .
Semoga kita semua bisa merenung. Gunakan media sosial untuk menyebarkan kebaikan, ilmu, dan semangat persaudaraan, bukan untuk saling menjatuhkan. Mari kita kawal jalannya Parluh 2026 dengan pikiran jernih dan hati yang bersih, demi masa depan PSHT yang lebih baik. Jangan sampai karena ulah kita sendiri, nilai "persaudaraan" yang menjadi ciri khas PSHT justru luntur di mata masyarakat.
Bagaimana pendapat Kadang MPA tentang fenomena ini? Komen di bawah, tapi tetap jaga persaudaraan ya! π
"MPA Official - Media Politik Asik yang Nggak Bikin Pusing!" π

Tidak ada komentar
Posting Komentar